Dari Abu Qubail berkata: Ketika kita sedang bersama Abdullah bin Amr bin
al-Ash, dia ditanya: Kota manakah yang akan dibuka terlebih dahulu;
Konstantinopel atau Rumiyah?
Abdullah meminta kotak dengan
lingkaran-lingkaran miliknya. Kemudian dia mengeluarkan kitab. Abdullah
berkata: Ketika kita sedang menulis di sekitar Rasulullah shallallahu
alaihi wasallam, beliau ditanya: Dua kota ini manakah yang dibuka lebih
dulu: Konstantinopel atau Rumiyah/Roma?
Rasul menjawab, â??Kota Heraklius dibuka lebih dahulu.â?? Yaitu: Konstantinopel.
(HR. Ahmad, ad-Darimi, Ibnu Abi Syaibah dan al-Hakim)
Sultan
Muhammad II dilahirkan di Edirin pada 30 Maret 1423 M yang mana pada
waktu itu Edirin adalah pusat kota pemerintahan Dinasty Turki Utsmani.
beliau adalah putra dari Sultan Murad II beliau hidup di masa setelahnya
Sultan Salahuddin Al-Ayyubi (pahlawan perang Salib) 1137 -1193 M
Semenjak
kecil, beliau telah mencermati usaha ayahnya untuk menaklukkan
Konstantinopel. Bahkan beliau telah mengkaji usaha yang pernah dibuat
sepanjang sejarah Islam untuk menaklukkan Konstantinopel, sehingga
menimbulkan keinginan yang kuat baginya meneruskan cita-cita umat Islam.
Ketika beliau naik tahta pada tahun 1451 M, dia telah mulai berpikir
dan menyusun strategi untuk menawan kota bandar (kota/kota pelabuhan)
tersebut. Kekuatan Sultan Muhammad Al-Fatih terletak pada ketinggian
pribadinya. Sejak kecil, dia di didik secara intensif oleh para ulama'
terkemuka di zamannya. Di zaman ayahnya, yaitu Sultan Murad II, Sultan
Murad II telah menghantar beberapa orang ulama' untuk mengajar anaknya
(Sultan Muhammad Al-Fatih), tetapi oleh Sultan Muhammad Al-Fatih
menolaknya. Lalu, dia menghantar Asy-Syeikh Al-Kurani dan memberikan
kuasa kepadanya untuk memukul Sultan Muhammad Al-Fatih jika beliau
membantah perintah gurunya.
Waktu bertemu Sultan Muhammad dan
menjelaskan tentang hak yang diberikan oleh Sultan Murad II (ayahnya)
kepada Syeikh Muhammad bin Isma'il Al-Kurani, Sultan Muhammad tertawa.
Dia lalu dipukul oleh Asy-Syeikh Al-Kurani. Peristiwa ini amat berkesan
pada diri beliau lantas setelah itu dia terus menghafal Al-Qur'an dalam
waktu yang singkat. Di samping itu, Murabbi Syeikh Ak Syamsuddin yang
juga merupakan Murabbi dari Sultan Muhammad Al-Fatih. Dia mengajar
Sultan Muhammad ilmu-ilmu agama seperti Al-Qur'an, hadits, fiqih, bahasa
(Arab, Parsi dan Turki), matematika, falak, sejarah, ilmu peperangan
dan sebagainya.
Hari Jumat, 6 April 1453 M, Muhammad II bersama
gurunya Syeikh Aaq Syamsudin, beserta tangan kanannya Halil Pasha dan
Zaghanos Pasha merencanakan penyerangan ke Konstantinopel dari berbagai
penjuru benteng kota tersebut. Dengan berbekal 250.000 ribu pasukan dan
meriam -teknologi baru pada saat itu- Para mujahid lantas diberikan
latihan intensif dan selalu diingatkan akan pesan Rasulullah Shallallahu
''Alaihi Wasallam terkait pentingnya Konstantinopel bagi kejayaan
Islam.
Muhammad II mengirim surat kepada Paleologus untuk masuk
islam atau menyerahkan penguasaan kota secara damai dan membayar upeti
atau pilihan terakhir yaitu perang. Constantine menjawab bahwa dia tetap
akan mempertahankan kota dengan dibantu Kardinal Isidor, Pangeran
Orkhan dan Giovani Giustiniani dari Genoa.
Setelah proses
persiapan yang teliti, akhirnya pasukan Sultan Muhammad Al-Fatih tiba di
kota Konstantinopel pada hari Kamis 26 Rabiul Awal 857 H atau 6 April
1453 M. Di hadapan tentaranya, Sultan Al-Fatih lebih dahulu berkhutbah
mengingatkan tentang kelebihan jihad, kepentingan memuliakan niat dan
harapan kemenangan di hadapan Allah Subhana Wa Ta''ala. Dia juga
membacakan ayat-ayat Al-Qur''an mengenainya serta hadis Nabi Shallallahu
''Alaihi Wasallam tentang pembukaan kota Konstantinopel. Ini semua
memberikan semangat yang tinggi pada bala tentera dan lantas mereka
menyambutnya dengan zikir, pujian dan doa kepada Allah Subhana Wa
Ta'ala.
Kota dengan benteng >10m tersebut memang sulit
ditembus, selain di sisi luar benteng pun dilindungi oleh parit 7m. Dari
sebelah barat pasukan artileri harus membobol benteng dua lapis, dari
arah selatan Laut Marmara pasukan laut Turki harus berhadapan dengan
pelaut Genoa pimpinan Giustiniani dan dari arah timur armada laut harus
masuk ke selat sempit Golden Horn yang sudah dilindungi dengan rantai
besar hingga kapal perang ukuran kecil pun tak bisa lewat.
Berhari-hari
hingga berminggu-minggu benteng Byzantium tak bisa jebol, kalaupun
runtuh membuat celah maka pasukan Constantine langsung mempertahankan
celah tsb dan cepat menutupnya kembali. Usaha lain pun dicoba dengan
menggali terowongan di bawah benteng, cukup menimbulkan kepanikan kota,
namun juga gagal.
Hingga akhirnya sebuah ide yang terdengar bodoh
dilakukan hanya dalam waktu semalam. Salah satu pertahanan yang agak
lemah adalah melalui Teluk Golden Horn yang sudah dirantai. Ide tersebut
akhirnya dilakukan, yaitu dengan memindahkan kapal-kapal melalui darat
untuk menghindari rantai penghalang, hanya dalam semalam dan 70-an kapal
bisa memasuki wilayah Teluk Golden Horn (ini adalah ide â??tergilaâ??
pada masa itu namun Taktik ini diakui sebagai antara taktik peperangan
(warfare strategy) yang terbaik di dunia oleh para sejarawan Barat
sendiri).
Sultan Muhammad Al-Fatih pun melancarkan serangan
besar-besaran ke benteng Bizantium di sana. Takbir "Allahu Akbar, Allahu
Akbar!" terus membahana di angkasa Konstantinopel seakan-akan
meruntuhkan langit kota itu. Pada 27 Mei 1453, Sultan Muhammad Al-Fatih
bersama tentaranya berusaha keras membersihkan diri di hadapan Allah
Subhana Wa Ta''ala. Mereka memperbanyak shalat, doa, dan dzikir. Hingga
tepat jam 1 pagi hari Selasa 20 Jumadil Awal 857 H atau bertepatan
dengan tanggal 29 Mei 1453 M, setelah sehari istirahat perang, pasukan
Turki Utsmani dibawah komando Sultan Muhammad II kembali menyerang
total, diiringi hujan dengan tiga lapis pasukan, irregular di lapis
pertama, Anatolian army di lapis kedua dan terakhir pasukan elit
Yanisari (Janissary).
Giustiniani sudah menyarankan Constantine
untuk mundur atau menyerah tapi Constantine tetap konsisten hingga gugur
di peperangan. Kabarnya Constantine melepas baju perang kerajaannya dan
bertempur bersama pasukan biasa hingga tak pernah ditemukan jasadnya.
Giustiniani sendiri meninggalkan kota dengan pasukan Genoa-nya. Kardinal
Isidor sendiri lolos dengan menyamar sebagai budak melalui Galata, dan
Pangeran Orkhan gugur di peperangan.
Tentara Utsmaniyyah akhirnya
berhasil menembus kota Konstantinopel melalui Pintu Edirne dan mereka
mengibarkan bendera Daulah Utsmaniyyah di puncak kota. Kesungguhan dan
semangat juang yang tinggi di kalangan tentara Al-Fatih, akhirnya
berjaya mengantarkan cita-cita mereka.
Konstantinopel telah
jatuh, penduduk kota berbondong-bondong berkumpul di Hagia Sophia/ Aya
Sofia, dan Sultan Muhammad II memberi perlindungan kepada semua
penduduk, siapapun, baik Yahudi maupun Kristen karena mereka (penduduk)
termasuk non muslim dzimmy (kafir yang harus dilindungi karena membayar
jizyah/pajak), muahad (yang terikat perjanjian), dan mustaâ??man (yang
dilindungi seperti pedagang antar negara) bukan non muslim harbi (kafir
yang harus diperangi). Konstantinopel diubah namanya menjadi Islambul
(Islam Keseluruhannya). Hagia Sophia pun akhirnya dijadikan masjid dan
gereja-gereja lain tetap sebagaimana fungsinya bagi penganutnya.
Toleransi
tetap ditegakkan, siapa pun boleh tinggal dan mencari nafkah di kota
tersebut. Sultan kemudian membangun kembali kota, membangun sekolah
gratis, siapapun boleh belajar, tak ada perbedaan terhadap agama,
membangun pasar, membangun perumahan, membangun rumah sakit, bahkan
rumah diberikan gratis bagi pendatang di kota itu dan mencari nafkah di
sana. Hingga akhirnya kota tersebut diubah menjadi Istanbul, dan
pencarian makam Abu Ayyub dilakukan hingga ditemukan dan dilestarikan.
Dan kini Hagia Sophia sudah berubah menjadi museum.
Dalam
gambaran Roger Crowly, seorang peneliti asal Universitas Cambridge,
Inggris, begitu Konstantinopel, ibukota Romawi ditaklukkan pasukan
Islam, seluruh belantara Eropa diambang ketakutan. Crowly menggambarkan
dalam bukunya Holy War for Constantinople and the Clash of Islam and the
West, betapa seluruh pemimpin negara-negara Eropa ketakutan bukan
kepalang terhadap kesultanan Ustmaniyah. Malah, masih menurut Crowly,
sempat tersiar Paus Pius, pemimpin Gereja Katolik Roma, sempat mengungsi
dari singgasananya di tahun 1463. Di tahun itulah, setelah Sultan
Muhammad al Fatih, pemimpin Islam kala itu, membawa pasukan menuju Roma,
Italia.
Tak heran, gambaran kebencian pun melanda belantara
Eropa terhadap Sultan Al Fatih. Mungkin sikap benci itu hampir setara
sinisme umat Islam terhadap George W. Bush, mantan Presiden AS, di era
kini. Simak saja ungkapan bangsawan Venesia di abad 17, Giovanni
Sagredo. Dia bilang,"Sungguh mujur negeri-negeri Kristen dan Italia,
saat kematian menghentikan si barbar yang galak dan sukar ditenangkan
itu." Giovanni menggambarkan tatkala seluruh belantara Eropa riang
kesenangan mendengar kabar wafatnya Sultan Al Fatih di tahun 1463.
Karena negeri Eropa lainnya tak jadi ditaklukkan oleh pasukan Islam.
Malah,
begitu berita Sultan Al Fatih wafat sampai ke Italia, dentang gereja
berbunyi 3 kali di siang hari. Ini diluar kebiasaan gereja kala itu.
Tapi lonceng itu dibunyikan sebagai bentuk keriangan karena wafatnya
pemimpin Utsmaniyah itu.
Wajar memang jika Barat, pihak yang kala
itu kalah telak, menjulukinya begitu. Tapi di mata kaum muslim, Sultan
Al Fatih adalah pahlawan sesungguhnya. Penaklukkannya terhadap
Konstantinopel, adalah bukti kebenaran dari Hadist Nabi SAW. Tatkala
perang Khandaq, di abad 6 Masehi terjadi di Madinah, Nabi SAW sempat
bersabda: "Konstantinopel akan takluk di tangan seorang pemimpin
(Islam). Di tangan dialah sebaik-baiknya pemimpin dan di tangan dialah
sebaik-baiknya pasukan". Hadist ini diriwayatkan secara shahih oleh HR
Akhmad.
Ternyata kebenaran itu terbukti. Tahun 1453, Al Fatih menaklukkan Konstantinopel.
#Pulsk
Tidak ada komentar:
Posting Komentar